Pada tahun 1962, para gadis tidak bisa berhenti tertawa.

Dan kamu tahu hal apa yang paling aneh? Tawa mereka menyebar, seperti virus.

Kejadian aneh ini terjadi di  Kashasha, Tanzania. Awalnya hanya beberapa siswi di sekolah khusus perempuan yang tidak bisa berhenti tertawa. Lalu tawa mereka menyebar. Yang awalnya hanya 95 siswi menjadi 159 siswi. Setelah 6 minggu, sekolah terpaksa ditutup. Namun, hal itu tidak bisa menghentikan penyebarannya.

Tawa itu menyebar ke desa tetangga, Nshamba. 217 gadis terkena ‘virus’ tawa ini. Lalu menyebar lagi ke Bukoba, yang mengakibatkan 48 gadis terinfeksi.

Mereka mengatakan wabah ini berlangsung selama 18 bulan. Menutup 14 sekolah dan menginfeksi lebih dari 1.000 anak-anak.

Terdengar gila bukan? Tapi sayangnya kejadian aneh tersebut memang benar terjadi. Pada abad pertengahan, terjadi wabah yang bernama “choreomania” di Eropa. Wabah ini menyebabkan orang-orang menari tanpa henti. Tidak , saya tidak mengada-ngada. Kejadian itu memang ada.

Tidak hanya virus yang bisa menyebar. Sikap dan perilaku juga bisa menyebar. Kebahagiaan, kesedihan, kejahatan, model, trend, semuanya bisa menyebar seperti penyakit. Seorang profesor Yale yang bernama Nicholas Christakis MD, PhD, MPH telah mempelajari bagaimana hal itu bisa terjadi. Beliau berkata :

Kami telah mempelajari bahwa perilaku altruistik dapat menyebar melalui jaringan. Jaringan akan memperbesar apapun yang ada di dalamnya, Mereka akan menyebarkan virus Ebola, paham fasisme, kesedihan, dan kekejaman, tetapi mereka juga akan menyebarkan cinta, kebahagian, dan informasi.

Teman yang sedang bahagia kemungkinan akan menyebarkan kebahagian sebanyak 9%. Sedangkan teman yang sedang sedih kemungkinan akan menyebarkan kesedihan sebanyak 7%. Ya, kebahagian lebih menular daripada kesedihan. Jadi usahakan bertemanlah dengan orang yang bahagia . Menurut Nicholas ketika kamu berteman dengan orang yang bahagia selama 6 bulan. Ada kemungkinan sebanyak 45 % , kebahagiaan kamu akan ikut meningkat.

Yuk sebarkan kebahagiaan dan sikap optimis di tengah pandemi seperti ini. Tidak, saya tidak bilang dengan kamu menyebarkan kebahagiaan dan sikap optimis akan membunuh COVID-19. Saya tidak mau menyepelekan virus ini.

Tapi kita harus tetap berpikir positif, optimis, dan terus berjuang melawan situasi sekarang. Kita harus menjaga kesehatan dan mental kita agar kita bisa selamat dari pandemi ini.

Marilah mulai dari diri kita sendiri. Yuk kita sebarkan virus bahagia, optimis, bersyukur, dan saling menolong.

Kamu sudah siap untuk menyebarkan virusnya? 🙂

1. Sebarkan Koneksi

70% kebahagian berasal dari hubungan kamu dengan orang lain.

Tapi dengan social distancing, beberapa orang yang hidup sendiri tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain. Hal itu buruk. Sangat buruk.

Kesepian akan membunuhmu secara perlahan. Tidak sayang, saya tidak terlalu melebihkan. Ketika kamu kesepian, kamu akan rentan mengalami depresi, kesedihan, dan stres. Penyakit mental terkadang lebih berbahaya daripada penyakit yang menyerang tubuh. Banyak penyakit mental yang membutuhkan waktu yang lama agar bisa sembuh.

Lalu bagaimana cara untuk mengatasinya?

Kamu bisa menghubungi teman-teman dan keluarga kamu lewat chat, video call, telepon. Kalau kamu punya teman yang hidup sendiri, jangan lupa untuk sering menghubungi dia agar dia tetap waras.

2. Sebarkan Sikap Saling Tolong Menolong

Meskipun kamu punya sikap yang egois, coba deh di saat yang seperti ini, hilangkan sifat egois kamu dan mulai menolong orang yang membutuhkan bantuan.

Kamu bisa mulai dari tetangga, orang terdekat kamu. Lihat apakah ada di antara mereka yang membutuhkan bantuan. Banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan karena Corona. Kalau kamu punya uang berlebih kamu bisa membantu mereka atau kalau kamu tidak punya uang, kamu bisa membantu mereka dengan sikap kamu.

Kita harus saling tolong menolong agar bisa bertahan di situasi kritis ini.

3. Sebarkan Sikap Bersyukur

Saya tahu sulit untuk bisa bersyukur di saat seperti ini.

Tapi, kamu tidak membutuhkan apa-apa agar kamu bisa menyebarkan sikap bersyukur. Kamu bisa bilang terima kasih dan menyebarkan sikap positif ke orang-orang.

Tidak bisa bertemu dengan mereka? Kamu bisa mengirimkan chat ke mereka. Katakan kamu bersyukur telah mengenal mereka dan ucapkan terima kasih kepada mereka. Mereka akan senang ketika mereka membaca chat dari kamu.

4. Sebarkan Sikap Optimis

Berhenti menyebarkan hoax atau informasi tidak jelas yang akan menyebabkan kepanikan di masyarakat. Tapi, coba sebarkan infomasi yang membuat masyarakat tenang.

Terlalu optimis akan menyebabkan masyarakat kurang waspada. Tapi kepanikan juga akan membuat masyarakat takut.

Yakinlah semua musibah ini akan segera berlalu. Jadi sebarkanlah optimisme.

Stay safe everyone :).

Sumber gambar : pixabay

Referensi : https://www.bakadesuyo.com/2020/03/pandemic/