Mungkin kamu pernah ada di fase dimana kamu sulit sekali memaafkan seseorang. Ingin rasanya memaafkannya tapi setiap kali kamu ingat apa yang telah dia lakukan kepadamu. Tanpa kamu sadari, air mata telah membasahi pipi kamu.

Kamu tidak paham apa yang terjadi dengan diri kamu.

Mengapa sulit sekali untuk memaafkan dia?

Mengapa rasanya sakit sekali?

Aku tahu bagaimana rasanya. Aku tahu…

Dia telah membuat hidup kamu yang awalnya penuh warna berubah menjadi hitam dan putih. Kamu bahkan tidak tahu sampai kapan kehidupan kamu akan kembali berwarna.

Kamu tidak tahu siapa yang tidak bisa kamu maafkan. Dia atau diri kamu sendiri?

Semuanya terlihat abu-abu.

Dan rasanya menyakitkan.

Rasanya seperti kehidupan kamu berhenti. Semua suara mendadak menjadi senyap di telinga kamu. Lucunya, kamu masih bisa mendengar suara turunnya hujan.

Berbulan-bulan pun berlalu. Dia tidak menunjukan rasa bersalah. Kamu pun tetap sama.

Kamu masih tidak tahu siapa yang tidak bisa kamu maafkan. Dia atau diri kamu sendiri?

Kamu terus menyalahkan dia meskipun di dalam hati kecil kamu tahu. Kamu tahu kamu juga bersalah.

Kamu menganggap diri kamu sendiri sebagai korban. Sedangkan dia adalah penjahat.

Yang malah semakin memperburuk keadaan….

Aku tahu dia salah. Dia seenaknya telah menghunuskan pedang di hati kamu. Lalu dia pergi begitu saja. Tanpa merasa bersalah.

Dia seenaknya tersenyum dan tertawa. Sedangkan disini kamu menderita.

Aku tahu kamu ingin dia merasakan hal yang sama seperti apa yang telah dia lakukan kepadamu.

Aku mengerti. Karena aku juga pernah merasakannya.

Tapi coba maafkanlah dia. Ingat dia juga pernah melakukan kebaikan untuk kamu. Ingat kamu juga pernah melakukan kesalahan. Tidak ada manusia yang sempurna. Banyak ilmu kehidupan yang telah kamu pelajari dari dia.

Ketika kamu memaafkan dia. Hati kamu akan lebih tenang. Luka yang kamu punya akan berangsur membaik.

Beban yang kamu pikul akan berubah menjadi sayap yang indah. Yang akan memberikan ketenangan di hati kamu

Aku tahu. Aku tahu itu tidak mudah.

Namun coba tetap maafkan dia. Setidaknya bukan buat dia, tapi buat diri kamu sendiri :).