sumber data : BBC

India dalam kesunyian. Jalanan sunyi, langit sunyi, rel kereta api sunyi. Hampir semuanya terdiam. Masyarakat diminta untuk diam di rumah. Waktu pun terdiam.

Tapi keheningan menyeramkan 21 hari lockdown yang terjadi di negara peringkat kedua terpadat di dunia tersebut hanyalah penipuan yang menyimpan kekacauan di dalamnya.

Ketika hari ke dua masyarakat India melakukan hiatus terhadap kehidupan dan pekerjaan berakhir, laporan dan video yang menunjukan kebijakan lockdown akan terganggu oleh demokrasi yang kacau dan sumber daya yang kurang terus bermunculan.

Lockdown baru terjadi dua hari dan keadaan mungkin membaik. Tapi bagaimana india akan mengatasi kejatuhan ekonomi dan sosial dari demokrasi yang hancur, mungkin sejak dari partisi berdarah yang terjadi pada akhir pemerintahan Inggris pada tahun 1947, akan diawasi dengan ketat. Hal tersebut juga akan menjadi ujian terbesar bagi pemerintah manapun sejak berdirinya republik India.

Peraturan ketat India yang dibuat untuk mencegah penyebaran virus mematikan ini akan membutuhkan biaya yang besar. Tapi negara tidak punya pilihan lain. Persentase tes Corona yang diujikan ke masyarakat India rendah dan di bawah kapasitas. Tes tersebut sudah terjadi selama beberapa minggu, namun belum mendapatkan gambaran sejauh mana penyebaran infeksi. (India telah mencatat 649 kasus Corona dan 13 orang meninggal).

Para buruh migran yang kehilangan pekerjaan dan tidak memiliki pendapatan berjalan pulang ke desa mereka. Jarak dari tempat mereka berada ke desa mereka banyak yang berjarak ratusan mil. Mereka berjalan kaki karena tidak ada alat trasnportasi. Masyarakat miskin dan tuna wisma memenuhi dapur darurat. Para polisi yang panik menggunakan paksaan untuk menutup perbatasan negara dan menjaga agar jalan agar tetap kosong.

Truk yang memuat pasokan barang-barang kebutuhan tersendat sehingga pengiriman ke rumah-rumah terhenti. Harapan untuk menuntaskan masalah ini sudah muncul di pesan dan perencanaan pemerintah; seorang birokrat senior men-tweet dia akan segera bertindak pada e-commerce raksasa seperti amazon yang telah menangguhkan pelayanan karena karyawan mereka tidak dapat bekerja.

Pemerintah juga tahu jika infeksi menyebar tanpa halangan di kota india, akan ada kematian masal. Dengan membuat masyarakat tinggal di rumah, India mempunyai satu kesempatan untuk menghindari dan mengurangi bencana yang mengancam tersebut. Jika negara menunggu lebih lama dan penyakit terus menyebar, itu akan membuat masyarakat dan ekonomi hancur. “Sejujurnya, tidak ada pilihan lain. Kita harus me-lockdown, ” kata Pratap Bhanu Mehta, seorang intelektual publik terkemuka kepada saya”.

India, menurut banyak orang, sekarang berada dalam situasi “seperti perang”. Di satu sisi, pertempuran melawan virus yang keras kepala baru saja dimulai. Di sisi lain, seperti dikatakan oleh ekonom Rathin Roy, pemerintah harus bergerak cepat ke mode krisis, Mirip dengan respon pemerintah dalam bidang ekonomi dalam menghadapi perang. Tidak ada waktu untuk kalah.

Pada hari Kamis, pemerintah memberitahukan kepada masyarakat bahwa pemerintah telah memberikan bailout $ 22 miliar (£ 19 miliar) kepada masyarakat miskin. Bailout tersebut untuk membayar uang tunai atau transfer, makanan gratis untuk orang yang membutuhkan dan asuransi kesehatan untuk petugas kesehatan.

Rangkaian skema kesejahteraan publik India telah membantu membangun basis data untuk masyarakat yang membutuhkan bantuan sebanyak ratusan juta penerima. Bantuan harus segera ditransfer ke rekening bank masyarakat yang membutuhkan seperti petani, pekerja harian, dan pekerja informal yang merupakan bagian terbesar dari angkatan kerja. Mereka yang tidak mempunyai rekening bank akan diberikan bantuan secara tunai dan makanan dan akses ke pasokan kebutuhan pokok.

Berpegang teguh pada protokol social distancing, rantai suplai harus cepat menyelesaikan masalah persuplaian. Petani dan produsen harus diberi tahu secara jelas apakah sebuah truk dapat datang dan membawa produk mereka ke pasar. Polisi yang menjaga masyarakat agar tetap lockdown secara ketat harus diberitahu siapa yang boleh keluar dan siapa yang tidak boleh keluar. Jutaan pekerja informal dan freelancer harus dibayar untuk bekerja di rumah.

Setengah lusin negara telah bergerak ke arah yang sama. Mereka telah mengumumkan mau memberikan bantuan tunai langsung ke jutaan pekerja, uang pensiun untuk lansia dan disabilitas, menyediakan makanan dan obat obatan gratis, dan makanan pokok untuk anak-anak sekolah di rumah. SHG (Self-help group) ditugaskan untuk memberi pinjaman konsumen di negara bagian Kerala Selatan. Tagihan listrik ditangguhkan dan rumah makan dibuka dengan harga makanan dan minuman yang murah. Harga minyak jatuh. India adalah impotir minyak utama, karena itu India akan memberikan negara uang tunai tambahan.

Tapi, semua usaha ini mungkin tidak cukup untuk mengatasi tantangan situasi seperti perang ini. Berapa lama, misalnya, waktu yang akan dibutuhkan jalur pasokan untuk mulai bergerak dengan lancar sehingga orang dapat membeli makanan dan kebutuhan pokok mereka?

Terlepas dari jaminan pemerintah, ribuan truk yang membawa makanan dan gas memasak, di antara barang dan komoditas lainnya, dilaporkan terjebak di perbatasan negara yang tertutup rapat. Pengemudi tidak memiliki makanan atau air. “Polisi bahkan tidak mau berbicara dengan kami,” kata seorang sopir truk kepada seorang wartawan.

Apakah bantuan yang dijanjikan kepada masyarakat miskin dan masyarakat yang rentan miskin akan diterima oleh mereka tepat waktu juga merupakan keprihatinan utama: banyak negara utara yang lebih padat seperti Uttar Pradesh dan Bihar memiliki catatan pengiriman yang buruk.