“Saya, saya. Itu….” dia menggelengkan kepalanya dan berusaha untuk berbicara dengan nada suara yang simpel.”Saya tidak mempersiapkan untuk bekerja di kastil, tuan putri. Saya tidak cukup cerdas untuk itu”.

“Kamu terlihat cukup cerdas bagiku. Kamu tinggi, kamu terlihat kuat, dan kamu mempunyai dagu yang bagus. Saya yakin kamu akan menjadi penjaga yang hebat”.

“Itu yang telah saya katakan!”Sarah berseru gembira,  berharap berada di pihak Maria “Tapi, Saya tidak pernah memperhatikan dagunya. Dagunya emang bagus ya?”

“Oh, sangat” Maria mengangguk. Dia memegang dan menarik kerah baju Derric. “Kamu lihat bagaimana dagunya terlihat kotak dan kuat? Dia mempunyai wajah yang tampan-sangat menarik” Maria menarik tangannya dari kerah Derric , kaget dengan sikapnya yang terlalu agresif. Dengan sengaja dia mengeluarkan batuk kecil untuk mengurangi rasa malunya. Maria kembali menghadap Sarah “Dia akan menjadi penjaga yang hebat”.

Derric menatap putri, dia bingung harus berbuat apa. Dengan rasa tertarik, Maria memperhatikan wajah Derric. Derric juga menikmati saat di mana dia memperhatikan wajah Maria,  meskipun dia harus berjuang melawan kulit merona merah yang berusaha mendekati lehernya.

Lembut. Itu adalah kata yang berada di pikirannya ketika melihat Maria. Maria terlihat lembut untuk disentuh, kulitnya yang indah mengingatkannya pada kayu manis. Bibirnya mengerut ketika dia berbalik ke arah Sarah untuk menjawab pertanyaan yang Derric belum dengar.  Semua hal mengenai dia begitu manis dan mewah, dari hidungnya yang sempurna hingga alisnya yang tertata rapi. Apa yang Maria temukan menarik dari diri Derric, dia tidak tahu.

Ada yang tidak benar. Suara hati kecil datang tidak diundang, namun dia berusaha untuk menepis suara itu. Untuk sekali ini saja, Derric ingin menerima pujian Maria itu.

“Saya harus kembali ke lantai atas secara diam diam sebelum seseorang datang ke kamar saya” kata Maria. Dia kembali melihat ke arah pintu masuk kandang kuda “Ayo ikut saya”.

Tanpa pikir panjang, Sarah mematuhi perintah Maria. Mereka melupakan Derric, hingga mereka sampai di pintu masuk kandang kuda.

“Pak Digson” Maria menghadap Derric

“Yang Mulia?”

“Saya akan berusaha agar kamu mendapatkan posisi tersebut. Saya yakin kamu akan lebih memilih menjadi penjaga daripada kerja di kandang kuda. Karena menjadi menjadi seorang penjaga jauh lebih menarik daripada kerja di kandang kuda”

Derric mengangguk, namun tidak berkata apa-apa karena dia tahu hal tersebut tidak akan mengubah apapun. Dia tidak akan meninggalkan kandang kuda. Meskipun dia berpura-pura menjadi orang lain, dia tidak akan pernah bisa kabur dari masa lalu. Satu hal yang pasti, putri tidak boleh tahu kebenarannya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana takutnya putri jika dia tahu apa yang telah dia lakukan.